Perkuat Komitmen Perguruan Tinggi Responsif Gender, PSGA Laksanakan Workshop PPRG

Bengkulu, 02 Juni 2026 — Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu menyelenggarakan Workshop Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) secara daring pada 2–5 Juni 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 25 peserta yang terdiri atas unsur pimpinan fakultas, program studi, dan dosen, dengan komposisi peserta laki-laki dan perempuan yang proporsional.

Narasumber kegiatan, Dr. Elfa Murdiana, M.Hum., dari Aliansi Perguruan Tinggi Responsif Gender, menegaskan bahwa terwujudnya perguruan tinggi yang responsif gender memerlukan komitmen kuat dari pimpinan serta dukungan perencanaan dan penganggaran yang responsif gender.

Menurutnya, langkah awal yang harus dilakukan adalah memastikan seluruh proses perencanaan menggunakan Gender Analysis Pathway (GAP) dan Gender Budget Statement (GBS). Melalui pendekatan tersebut, setiap program dan kegiatan yang direncanakan dapat menghasilkan kebijakan dan program kerja yang responsif gender.

“Perencanaan yang responsif gender akan membantu memastikan bahwa seluruh program dan kegiatan mampu menjawab kebutuhan serta pengalaman yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan secara adil oleh semua pihak,” ujarnya.

Dr. Elfa menjelaskan bahwa perencanaan responsif gender menjadi sangat penting karena ketidakadilan gender masih menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Perencanaan yang responsif gender memastikan seluruh program dapat diakses oleh semua pihak (access), mendorong keterlibatan aktif seluruh unsur (participation), memberikan kesempatan yang setara dalam pengambilan keputusan (control), serta menghasilkan manfaat yang dirasakan secara adil oleh semua pihak (benefit).

Adapun target capaian kegiatan ini adalah agar peserta yang mewakili fakultas mampu menyusun rencana kerja responsif gender, menyusun dokumen Gender Analysis Pathway (GAP), serta membuat Gender Budget Statement (GBS). Hasil workshop ini diharapkan dapat diimplementasikan dalam penyusunan program kerja dan penganggaran tahun 2027.

Sementara itu, Ahmad Syarifin, menegaskan bahwa implementasi pengarusutamaan gender merupakan bagian penting dalam agenda pembangunan nasional, termasuk dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs) dan Asta Cita.

“Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendorong terwujudnya pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. Karena itu, perspektif gender perlu diintegrasikan dalam perencanaan, pelaksanaan program akademik, hingga penganggaran di lingkungan kampus,” tegasnya.

Melalui workshop ini, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan tata kelola perguruan tinggi yang inklusif, adil, dan responsif gender guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat implementasi pengarusutamaan gender di lingkungan kampus serta meningkatkan kualitas perencanaan dan penganggaran yang berorientasi pada keadilan dan kesetaraan gender.