Lewat Bengkulu Talk Show BETV, Pusat Lingkungan Hidup (PLH) LPPM UIN FAS Bengkulu Edukasi Masyarakat tentang Sampah dan Kesehatan

Bengkulu 31 Agustus 2026 — Sampah bukan hanya persoalan kebersihan dan keindahan lingkungan, tetapi memiliki hubungan langsung dengan kesehatan manusia. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pencemaran sekaligus tempat berkembang biaknya berbagai vektor penyakit.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Bengkulu Talk Show BETV bertema “Sampah dan Kesehatan Lingkungan”, Senin, 31 Agustus 2026. Dialog menghadirkan Fadilah, S.Si., M.Si., C.EIA, C.TL, C.PS., Akademisi sekaligus Kepala Pusat Lingkungan Hidup UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, dengan Wendi sebagai host.
Dalam dialog tersebut, Fadilah menjelaskan bahwa hubungan sampah dengan kesehatan dapat terjadi melalui berbagai jalur. Sampah organik yang membusuk dapat mengundang lalat, kecoa, dan tikus yang berpotensi membawa bibit penyakit. Sampah yang menyumbat drainase dapat menyebabkan genangan air dan menciptakan tempat perkembangbiakan nyamuk. Sementara sampah yang dibakar secara terbuka menghasilkan asap dan partikel pencemar yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan.
Dampak lainnya terjadi ketika sampah dibuang ke sungai, selokan, atau lingkungan terbuka. Air dan tanah dapat tercemar, sementara kualitas sanitasi lingkungan menurun. Karena itu, pengelolaan sampah sebenarnya merupakan bagian penting dari upaya pencegahan penyakit dan perlindungan kesehatan masyarakat.
Fadilah juga menekankan perlunya perubahan paradigma dalam mengelola sampah. Menurutnya, slogan yang selama bertahun-tahun dikenal masyarakat, yakni “Buanglah sampah pada tempatnya”, saat ini sudah tidak cukup untuk menjawab persoalan sampah.

“Kalau semua sampah dibuang pada satu tempat tetapi masih bercampur, kita hanya memindahkan masalah dari rumah ke tempat pembuangan. Yang perlu kita biasakan sekarang adalah: pilahlah sampah sesuai jenisnya.”
Pemilahan harus dilakukan sejak dari sumber, baik di rumah tangga, sekolah, kampus, perkantoran, pasar maupun tempat usaha. Sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan dapat diolah, antara lain menjadi kompos. Sementara kertas, kardus, botol plastik, kaleng, dan berbagai material anorganik yang masih dapat dimanfaatkan perlu dipisahkan sehingga dapat digunakan kembali, didaur ulang, atau disalurkan melalui bank sampah.
Dengan demikian, pemilahan memiliki dua manfaat sekaligus: manfaat kesehatan dan manfaat ekonomi. Dari sisi kesehatan, volume sampah yang membusuk dan mencemari lingkungan dapat dikurangi. Dari sisi ekonomi, material yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat menjadi komoditas yang mempunyai nilai jual.
Paradigma pengelolaan sampah pun harus bergeser dari pola lama “kumpul–angkut–buang” menjadi “kurangi–pilah–olah–manfaatkan.”
Fadilah mengingatkan bahwa persoalan sampah pada akhirnya merupakan persoalan perilaku. Pemerintah dapat menyediakan fasilitas dan sistem pengelolaan, tetapi keberhasilannya sangat ditentukan oleh kebiasaan masyarakat sejak dari sumber.

“Jadi, pesan kita hari ini bukan lagi sekadar ‘buanglah sampah pada tempatnya’, tetapi ‘pilahlah sampah sesuai jenisnya’. Karena sampah yang tidak dikelola dapat menjadi sumber penyakit, sedangkan sampah yang dipilah dan dikelola dengan benar dapat berubah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi.”
Melalui edukasi tersebut, Pusat Lingkungan Hidup UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu mendorong tumbuhnya kesadaran bahwa lingkungan yang sehat dimulai dari cara setiap individu memperlakukan sampah yang dihasilkannya sendiri.
