Kolaborasi Nasional Menguat: LPPM UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Teken PKS dengan 28 PTKIN

Padang, 28 April 2026, LPPM Universitas Islam Negeri Fatmawati Bengkulu, lakukan penandatangan Perjanjian Kerjasama dengan 28 LPPM/P3M PTKIN .

Dalam rangka peningkatan bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat serta peningkatan sumber daya lainnya meliputi, kegiatan Penelitian, workshop, Seminar, Penulisan karya ilmiah, Literasi keagamaan dan Gender, serta Pengabdian kepada masyarakat. Program Lingkungan hidup, lisensi halal serta kolaborasi sumber daya manusia.

Perjanjian kerjasama ini merupakan salah satu wujud keseeiusan LPPM dalam.menjalankan amanah memsukseskan visi dan misi UIN fatmawati Sukarno Bengkulu, ujar Dr. Rini Fitria, S.Ag.,M.Si selaku ketua LPPM UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.
Perjanjian kerjasama ini di lakukan di Padang, Sumatera Barat dalam kegiatan Temu Nasional Penjaminan Mutu PTKIN tahun 2026.

Rapat Koordinasi Kegiatan KKN Menuju KKN Unggul dan Berdampak

Pada hari Rabu, 22 April 2026 dilaksanakan rapat koordinasi pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan tema “Menuju KKN Unggul dan Berdampak” yang bertempat di lantai 2 gedung LPPM. Rapat ini dihadiri oleh Wakil Rektor 1, Wakil Rektor 2, para Dekan dari setiap Fakultas, Kepala Puskik, perwakilan dari bagian Perencanaan, Kepala TIPD, serta undangan lainnya.

Rapat koordinasi ini bertujuan untuk menyamakan persepsi, meningkatkan sinergi, serta merumuskan langkah strategis dalam pelaksanaan KKN ke depan agar dapat berjalan secara optimal dan memberikan dampak yang lebih luas bagi mahasiswa dan masyarakat. Dalam sambutannya, para pimpinan menegaskan pentingnya inovasi, kolaborasi lintas bidang, serta evaluasi berkelanjutan demi mewujudkan KKN yang unggul dan berdaya saing, demi mewujudkan visi Rektor mewujudkan kegiatan KKN berdampak kepada masyarakat serta berkolaborasi dengan kegiatan pengabdian masyarakat Dosen serta kegiatan KKN  tersebut bersifat berlanjut (keberlanjutan).

Ketua LPPM Dr. Rini Fitria, S.Ag.,M.Si menyampaikan “sangat optimis bahwa pelaksanaan KKN tahun ini dapat berjalan lancar, penuh semangat inovasi, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Mari kita jadikan KKN sebagai wadah pembelajaran sekaligus pengabdian terbaik, sehingga dapat membawa nama baik universitas dan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar. Dengan kerja sama dan komitmen kita bersama, saya optimis KKN unggul dapat terwujud”.

Berbagai masukan, saran, dan rencana aksi disampaikan oleh peserta rapat, terutama terkait penguatan program, teknis pelaksanaan di lapangan, serta upaya peningkatan monitoring dan evaluasi. Dengan adanya rapat koordinasi ini, diharapkan seluruh pihak yang terlibat dapat berkomitmen dan berkontribusi aktif demi kesuksesan pelaksanaan KKN unggul di masa mendatang.

Kesepakatan akhir bahwa kegiatan KKN Tematik diserahkan ke pihak Fakultas sebagai penyelenggara yang berbasis pengabdian serta masih dikontrol oleh pihak LPPM, selain kegiatan KKN Tematik terdapat kegiatan KKN Unggulan yang akan di selenggarakan oleh pihak LPPM sebagai penyelenggara.

Hari Bumi dan Tantangan Keberlanjutan: Peran Perguruan Tinggi dalam Menjaga Lingkungan

Setiap tanggal 22 April, masyarakat dunia memperingati Hari Bumi sebagai momentum global untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Peringatan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai simbol kepedulian terhadap alam, tetapi juga sebagai ajakan bersama untuk merefleksikan kembali hubungan manusia dengan bumi yang menjadi tempat hidup seluruh makhluk.

Dalam beberapa dekade terakhir, berbagai persoalan lingkungan semakin menunjukkan dampak yang nyata terhadap kehidupan manusia. Perubahan iklim menyebabkan peningkatan suhu global dan memicu berbagai fenomena cuaca ekstrem. Kerusakan hutan dan hilangnya keanekaragaman hayati semakin mengancam keseimbangan ekosistem. Sementara itu, pencemaran udara, air, dan tanah terus meningkat seiring dengan pertumbuhan aktivitas industri dan konsumsi manusia yang tidak terkendali.

Berbagai laporan ilmiah menunjukkan bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini sebagian besar disebabkan oleh pola pembangunan yang tidak berkelanjutan serta eksploitasi sumber daya alam yang melampaui daya dukung lingkungan. Dalam situasi seperti ini, kesadaran kolektif untuk menjaga bumi menjadi semakin mendesak. Hari Bumi hadir sebagai pengingat bahwa kelestarian alam tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan kehidupan manusia itu sendiri.

Bumi bukan sekadar ruang fisik tempat manusia tinggal. Ia adalah sistem kehidupan yang kompleks dan saling terhubung. Udara yang kita hirup, air yang kita minum, serta tanah yang menjadi sumber pangan merupakan bagian dari keseimbangan alam yang harus dijaga. Ketika salah satu komponen ekosistem terganggu, maka seluruh sistem kehidupan akan merasakan dampaknya.

Dalam perspektif keagamaan, khususnya dalam Islam, hubungan manusia dengan alam memiliki dimensi moral dan spiritual yang sangat kuat. Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai khalifah fil ardh, yaitu makhluk yang diberi amanah oleh Tuhan untuk mengelola dan menjaga bumi. Konsep ini menunjukkan bahwa keberadaan manusia di dunia tidak hanya sebagai pengguna sumber daya alam, tetapi juga sebagai penjaga keseimbangan ciptaan Tuhan.

Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak melakukan kerusakan di muka bumi setelah Allah menciptakannya dalam keadaan seimbang. Pesan ini mengandung makna bahwa menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari tanggung jawab etis manusia. Kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga mencerminkan hilangnya kesadaran moral dalam memperlakukan alam.

Dalam konteks inilah konsep ekoteologi menjadi semakin relevan. Ekoteologi memandang bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari praktik keberagamaan yang menempatkan alam sebagai amanah yang harus dijaga. Pendekatan ini menegaskan bahwa merawat bumi bukan hanya tindakan ekologis, tetapi juga bentuk pengabdian kepada Tuhan.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama bahkan telah mendorong penguatan gerakan ekoteologi sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai agama. Pendekatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab spiritual yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan beragama.

Perguruan tinggi memiliki peran yang sangat penting dalam memperkuat kesadaran ekologis tersebut. Sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi, universitas tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang lahirnya gagasan dan solusi terhadap berbagai persoalan lingkungan. Melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan, penyusunan kebijakan berbasis data ilmiah, serta pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Mahasiswa sebagai generasi muda diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai keberlanjutan ke dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.Peringatan Hari Bumi juga menjadi momentum penting bagi institusi pendidikan untuk memperkuat komitmen dalam mengembangkan berbagai program yang mendukung keberlanjutan lingkungan.

Ketua LPPM UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Dr. Rini Fitria, S.Ag.,M.Si menyampaikan “bahwa pihaknya berkomitmen penuh untuk mendukung program pemerintah dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, sebagai perguruan tinggi Islam, LPPM UIN FAS Bengkulu memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan upaya pelestarian lingkungan melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sehingga dapat berkontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang”

Hal senada disampaikan oleh Kepala Pusat Lingkungan Hidup LPPM UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Fadilah, S.Si., M.Si menyampaikan “bahwa penguatan komitmen terhadap pelestarian lingkungan merupakan bagian integral dari peran perguruan tinggi Islam dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa melalui riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat, pusat studi lingkungan hidup berupaya mendorong praktik-praktik ramah lingkungan yang berbasis kearifan lokal dan nilai-nilai keislaman. Dengan demikian, diharapkan tercipta sinergi antara ilmu pengetahuan, etika religius, dan kebijakan pemerintah dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta keberlanjutan sumber daya alam”.

Pada akhirnya, menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Upaya pelestarian lingkungan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, tetapi memerlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor industri, serta masyarakat luas. Hari Bumi mengingatkan kita bahwa masa depan planet ini sangat bergantung pada keputusan dan tindakan yang kita lakukan hari ini. Setiap langkah kecil yang dilakukan untuk menjaga lingkungan seperti mengurangi sampah plastik, menanam pohon, menghemat energi, dan menjaga kebersihan lingkungan. Hal ini merupakan kontribusi nyata bagi keberlanjutan bumi.

Bumi yang kita tempati saat ini bukanlah warisan dari generasi sebelumnya, melainkan titipan yang harus kita jaga untuk generasi yang akan datang. Dengan menumbuhkan kesadaran ekologis dan memperkuat tanggung jawab moral terhadap alam, kita dapat memastikan bahwa bumi tetap menjadi rumah yang layak bagi seluruh makhluk hidup di masa depan. Semoga peringatan Hari Bumi menjadi momentum bagi kita semua untuk memperbarui komitmen dalam menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat kepedulian terhadap alam, serta membangun masa depan yang lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Salam Lestari,

Kepala Pusat Lingkungan Hidup LPPM UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Fadilah, S.Si., M.Si

Asesmen Lapangan Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) Menuju Prodi Unggul

Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) melaksanakan kegiatan asesmen lapangan pada Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) jenjang S1 di UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu yang bertempat di lantai 2 Gedung Lembaga Penjaminan Mutu (LPM).

Kegiatan ini tidak hanya melibatkan unsur pimpinan dan sivitas akademika, tetapi juga mendapat dukungan penuh dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu yang turut hadir dan berperan aktif dalam menyukseskan jalannya asesmen lapangan.

 

Asesmen lapangan merupakan bagian dari proses akreditasi yang dilakukan untuk memverifikasi kesesuaian data dan dokumen Program Studi AFI S1 dengan kondisi riil di lapangan. Kegiatan ini melibatkan tim asesor BAN-PT yaitu Prof. Dr.Ris’an Rusli, M.A sebagai asesor 1 dan Prof. Dr. Sudarman, M.Ag, pimpinan Universitas, LPM, pengelola program studi, dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, serta LPPM sebagai bagian penting dalam penguatan tridharma perguruan tinggi.

Rektor UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Prof. Dr.KH Khairuddin, M.Ag, menyampaikan “Semoga proses asesmen ini berjalan lancar dan menghasilkan capaian terbaik sesuai harapan kita bersama”.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Dr. Rini Fitria, S.Ag.,M.SI menyampaikan “Kami sangat mendukung pelaksanaan kegiatan akreditasi ini sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu”.

Kegiatan asesmen lapangan dilaksanakan pada hari Sabtu 18 April 2026 bertempat di lantai 2 Gedung LPM UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Asesmen lapangan dilakukan untuk menjamin mutu pendidikan tinggi serta meningkatkan kualitas akademik Program Studi AFI S1 agar sesuai dengan standar nasional pendidikan tinggi.

Proses asesmen berlangsung melalui beberapa tahapan, antara lain:

  • Presentasi profil program studi
  • Klarifikasi dokumen dan data
  • Wawancara dengan pimpinan, dosen, mahasiswa, alumni, dan stakeholder
  • Observasi sarana dan prasarana

Dalam kegiatan ini, LPPM berperan dalam mendukung aspek penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang menjadi bagian penting dalam penilaian akreditasi. Kehadiran LPPM menunjukkan komitmen institusi dalam memperkuat tridharma perguruan tinggi secara terintegrasi.

Inovasi Hijau di Pondok Pesantren Pancasila: Dosen UIN Fatmawati Bengkulu Transformasi Sampah Plastik Jadi Paving Block dan BBM

Memerangi pencemaran lingkungan tidak selalu harus dimulai dari ruang-ruang kebijakan pemerintah. Hal itu dibuktikan oleh seorang dosen dari Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Soekarno Bengkulu yang berhasil menciptakan terobosan ramah lingkungan. Khosi’in, M.Pd.Si, dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Fakultas Tarbiyah dan Tadris, berhasil mentransformasikan sampah plastik menjadi dua produk bernilai ekonomi tinggi: paving block dan bahan bakar minyak (BBM) alternatif.

Inovasi nyata tersebut tidak hanya berhenti di laboratorium kampus, melainkan direalisasikan dan diaplikasikan secara langsung di lingkungan Pondok Pesantren Pancasila, Kota Bengkulu.

Menggabungkan prinsip-prinsip sains dengan kehidupan nyata masyarakat, Khosi’in mengembangkan metode sederhana namun efektif untuk mendaur ulang limbah plastik. Untuk pembuatan paving block, plastik bekas kemasan dicairkan pada suhu tinggi tanpa proses pembakaran yang menghasilkan asap beracun, kemudian dicampurkan dengan pasir. Hasilnya adalah batatan paving yang memiliki daya serap air rendah dan tingkat kekerasan yang mampu menyaingi paving block konvensional berbahan semen.

Sementara itu, untuk menghasilkan BBM alternatif, Khosi’in memanfaatkan metode pirolisis, yaitu pemecahan molekul plastik melalui pemanasan pada suhu tertentu dalam sebuah wadah tertutup (distilasi). Proses ini mengubah sampah plastik jenis polietilen dan polipropilen menjadi uap yang kemudian didinginkan hingga menetes menjadi cairan hidrokarbon yang menyerupai solar atau bensin.

“Pemilihan Pondok Pesantren Pancasila sebagai lokasi percontohan adalah karena pesantren ini merupakan miniatur masyarakat yang juga menghadapi tantangan penumpukan sampah. Kita ingin mengintegrasikan ilmu IPA yang diajarkan di kampus dengan solusi nyata di lapangan,” ujar Khosi’in, M.Pd.Si, saat ditemui di lokasi pembuatan, Ahad (12/4/2026).

Ia menambahkan bahwa program ini juga merupakan wujud dari pendidikan karakter bagi para santri. Para santri dilibatkan langsung dalam proses pemilahan sampah hingga pencampuran bahan. Mereka diajarkan bahwa sampah yang selama ini dianggap sebagai barang tidak berguna sejatinya menyimpan potensi besar jika ditangani dengan ilmu pengetahuan.

“Secara lingkungan, ini adalah langkah pengurangan beban sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Kota Bengkulu. Secara ekonomi, paving block ini bisa digunakan untuk memperindah halaman pesantren atau dijual ke masyarakat, sementara BBM hasil olahan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik sederhana seperti menyalakan kompor atau genset,” jelas dosen yang kerap melakukan penelitian berbasis masyarakat tersebut.

Pengurus Pondok Pesantren Pancasila menyambut sangat positif inisiatif dari dosen UIN Fatmawati Bengkulu ini. Menurut mereka, kehadiran program ini tidak hanya menyelesaikan masalah kebersihan di lingkungan pesantren, tetapi juga membuka wawasan para santri tentang pentingnya teknologi tepat guna dan kewirausahaan berbasis lingkungan.

Ke depan, Khosi’in berencana untuk terus mengembangkan riset ini agar proses produksinya semakin efisien dan aman. Ia berharap inovasi yang lahir dari kolaborasi Prodi IPA FITK UIN Fatmawati Bengkulu dan Pondok Pesantren Pancasila ini dapat diduplikasi oleh lembaga pendidikan atau komunitas lainnya, guna mendukung terciptanya ekonomi sirkuler (circular economy) dan mewujudkan Indonesia yang bersih dari ancaman sampah plastik