Inovasi Hijau di Pondok Pesantren Pancasila: Dosen UIN Fatmawati Bengkulu Transformasi Sampah Plastik Jadi Paving Block dan BBM

Memerangi pencemaran lingkungan tidak selalu harus dimulai dari ruang-ruang kebijakan pemerintah. Hal itu dibuktikan oleh seorang dosen dari Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Soekarno Bengkulu yang berhasil menciptakan terobosan ramah lingkungan. Khosi’in, M.Pd.Si, dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Fakultas Tarbiyah dan Tadris, berhasil mentransformasikan sampah plastik menjadi dua produk bernilai ekonomi tinggi: paving block dan bahan bakar minyak (BBM) alternatif.

Inovasi nyata tersebut tidak hanya berhenti di laboratorium kampus, melainkan direalisasikan dan diaplikasikan secara langsung di lingkungan Pondok Pesantren Pancasila, Kota Bengkulu.

Menggabungkan prinsip-prinsip sains dengan kehidupan nyata masyarakat, Khosi’in mengembangkan metode sederhana namun efektif untuk mendaur ulang limbah plastik. Untuk pembuatan paving block, plastik bekas kemasan dicairkan pada suhu tinggi tanpa proses pembakaran yang menghasilkan asap beracun, kemudian dicampurkan dengan pasir. Hasilnya adalah batatan paving yang memiliki daya serap air rendah dan tingkat kekerasan yang mampu menyaingi paving block konvensional berbahan semen.

Sementara itu, untuk menghasilkan BBM alternatif, Khosi’in memanfaatkan metode pirolisis, yaitu pemecahan molekul plastik melalui pemanasan pada suhu tertentu dalam sebuah wadah tertutup (distilasi). Proses ini mengubah sampah plastik jenis polietilen dan polipropilen menjadi uap yang kemudian didinginkan hingga menetes menjadi cairan hidrokarbon yang menyerupai solar atau bensin.

“Pemilihan Pondok Pesantren Pancasila sebagai lokasi percontohan adalah karena pesantren ini merupakan miniatur masyarakat yang juga menghadapi tantangan penumpukan sampah. Kita ingin mengintegrasikan ilmu IPA yang diajarkan di kampus dengan solusi nyata di lapangan,” ujar Khosi’in, M.Pd.Si, saat ditemui di lokasi pembuatan, Ahad (12/4/2026).

Ia menambahkan bahwa program ini juga merupakan wujud dari pendidikan karakter bagi para santri. Para santri dilibatkan langsung dalam proses pemilahan sampah hingga pencampuran bahan. Mereka diajarkan bahwa sampah yang selama ini dianggap sebagai barang tidak berguna sejatinya menyimpan potensi besar jika ditangani dengan ilmu pengetahuan.

“Secara lingkungan, ini adalah langkah pengurangan beban sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Kota Bengkulu. Secara ekonomi, paving block ini bisa digunakan untuk memperindah halaman pesantren atau dijual ke masyarakat, sementara BBM hasil olahan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik sederhana seperti menyalakan kompor atau genset,” jelas dosen yang kerap melakukan penelitian berbasis masyarakat tersebut.

Pengurus Pondok Pesantren Pancasila menyambut sangat positif inisiatif dari dosen UIN Fatmawati Bengkulu ini. Menurut mereka, kehadiran program ini tidak hanya menyelesaikan masalah kebersihan di lingkungan pesantren, tetapi juga membuka wawasan para santri tentang pentingnya teknologi tepat guna dan kewirausahaan berbasis lingkungan.

Ke depan, Khosi’in berencana untuk terus mengembangkan riset ini agar proses produksinya semakin efisien dan aman. Ia berharap inovasi yang lahir dari kolaborasi Prodi IPA FITK UIN Fatmawati Bengkulu dan Pondok Pesantren Pancasila ini dapat diduplikasi oleh lembaga pendidikan atau komunitas lainnya, guna mendukung terciptanya ekonomi sirkuler (circular economy) dan mewujudkan Indonesia yang bersih dari ancaman sampah plastik